Penulis: Gabriella Marsella

Program: In-House Training – B2B Training

Di era modern ini, tidak ada lagi ruang bagi bisnis yang hanya mengandalkan proses manual atau sistem informasi yang terfragmentasi. Hampir seluruh sektor industri membutuhkan transformasi digital–termasuk industri perbankan. 

Pada sektor perbankan–di mana kecepatan layanan, keamanan data, dan kenyamanan pengguna menjadi hal yang sangat penting–ketertinggalan dalam adopsi teknologi dapat memengaruhi loyalitas nasabah dan pertumbuhan bisnis.

Oleh karena itu, mereka perlu membekali tim IT-nya dengan kemampuan dalam membangun dan mengelola sistem digital secara mandiri. Salah satu caranya adalah menerapkan pelatihan yang relevan dan aplikatif. 

Selain mengimplementasi teknologi baru, pelatihan ini juga harus mencakup perubahan mendalam pada pola pikir, budaya kerja, dan cara perusahaan melayani pelanggan. 

Tantangan Digitalisasi di Industri Perbankan

Dalam melakukan transformasi digital, industri perbankan mengalami beberapa tantangan. Beberapa di antaranya adalah ketergantungan terhadap vendor, keterbatasan teknologi, sistem yang tidak terintegrasi, dan ekspektasi pengguna yang meningkat.

1. Ketergantungan terhadap Vendor Eksternal

Beberapa institusi perbankan cenderung bergantung pada vendor pengembangan sistem eksternal. Meskipun kerja sama ini menjadi solusi praktis dalam jangka pendek, ketergantungan semacam ini justru berisiko meningkatkan biaya operasional, membatasi fleksibilitas pengembangan, serta mengurangi kontrol bisnis terhadap sistem yang dibangun.

2. Keterbatasan Talenta Teknologi

Tantangan utama dalam proses digitalisasi ini ditandai dengan keterbatasan sumber daya manusia yang dapat mengembangkan aplikasi. Bahkan, tim IT di perbankan juga lebih fokus pada bagian operasional dan infrastruktur, bukan pengembangan secara digitalnya. 

Ini membuat industri tersebut kesulitan dalam menciptakan aplikasi modern yang aman dan responsif.

3. Sistem yang Tidak Terintegrasi

Selanjutnya, masih banyak bisnis yang menggunakan aplikasi stand alone yang tidak terintegrasi antar satu sama lain. Hal ini akan menghambat efisiensi proses internal sekaligus mempersulit pengambilan keputusan berbasis data real-time.

4. Ekspektasi Pengguna yang Terus Meningkat

Nasabah bank selalu mengharapkan adanya layanan perbankan yang praktis dan dapat diakses melalui handphone. Jika industri perbankan tidak dapat memenuhi ini, maka mereka akan mudah beralih ke kompetitor lini bisnis lainnya.

Solusi: Pelatihan Mobile Development Flutter untuk Tim Internal

Sebelum memasuki studi kasus kali ini, kita akan mengenal dulu solusi yang dihadirkan untuk menghadapi permasalahan di atas. Flutter adalah sebuah framework pengembangan aplikasi dari Google.

Framework ini hadir sebagai solusi untuk bisnis apapun yang ingin mengembangkan aplikasi mobile lintas platform secara efisien. Dengan menggunakan Flutter, developer hanya perlu menulis satu codebase yang dapat digunakan di Android dan iOS. 

Selain hemat waktu dan biaya, Flutter juga dapat menghasilkan aplikasi dengan antarmuka pengguna yang menarik dan memberikan performa tinggi. Bahkan, framework ini juga dilengkapi dengan fitur integrasi yang kompatibel dengan berbagai layanan–misalnya API, firebase, geolokasi, dan penyimpanan lokal maupun cloud.

Dengan kata lain, Flutter memberikan fleksibilitas tinggi dalam pengembangan aplikasi kompleks, cepat, dan stabil. Solusi ini sangat sesuai dengan kebutuhan dunia perbankan yang membutuhkan aplikasi handal dengan keamanan data tingkat tinggi dan waktu pengembangan yang singkat.

Studi Kasus: In-House Training Flutter di Bank Papua

Untuk memanfaatkan teknologi di atas, bisnis perlu mengadakan pelatihan intensif untuk tim IT internalnya. Dengan begitu, mereka bisa menguasai konsep, tools, dan praktik terbaik dalam pengembangan aplikasi dengan Flutter.

Pelatihan yang dirancang dengan pendekatan praktik langsung dan berbasis proyek akan membantu membangun keahlian yang relevan dengan kebutuhan perusahaan.

Latar Belakang Bank Papua

Bank Papua adalah salah satu institusi perbankan yang sedang dalam proses transformasi digital. Sebelumnya, mereka menghadapi berbagai tantangan seperti keterbatasan sistem Customer Relationship Management (CRM), ketergantungan vendor eksternal, dan terbatasnya keahlian teknis dalam tim internal.

Untuk meningkatkan efisiensi operasional dan kemandirian teknologi, akhirnya Bank Papua menginisiasi program pelatihan Mobile Management dengan menggunakan Flutter. Harapannya, mereka dapat mengembangkan sistem ERP perbankan serta aplikasi mobile banking yang modern, kompetitif, dan terintegrasi.

Tujuan dan Kurikulum Pelatihan

Pelatihan Mobile Management ini diselenggarakan secara offline selama lima hari, dari tanggal 3 hingga 7 Maret 2025 silam. Kurikulum yang digunakan adalah pendekatan project-base dan real-world use cases. Ini membuat setiap pesertanya bisa langsung mengaplikasikan materi pelatihan dalam proyek internal bisnis.

Terdapat materi untuk delapan sesi pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga mengakomodasi kebutuhan nyata pengembangan aplikasi di sektor perbankan.

Peserta diajarkan dasar-dasar Flutter, bahasa pemrograman Dart, setup project, dan mengelola widget yang dihadirkan pada antarmuka aplikasi. Selain itu, pelatihan ini juga mengajarkan manajemen state dan navigasi antar halaman, serta integrasi media, API, database lokal, hingga layanan cloud melalui firebase.

Terakhir, peserta juga diajarkan proses autentikasi, pengiriman notifikasi push, dan proses deployment aplikasi ke platform Android dan iOS. 

Fokus utama pengembangan ini diarahkan kepada sistem ERP perbankan yang mendukung proses operasional secara menyeluruh dan aplikasi mobile banking modern yang mampu memberikan layanan digital yang cepat dan mudah diakses.

Sasaran Peserta

Pelatihan ini ditujukan untuk memperkuat seluruh lini pengembangan teknologi di Bank Papua, dengan melibatkan berbagai peran kunci dalam tim IT internal–yaitu developer, tim backend, dan tim keamanan sistem.

Dengan keterlibatan lintas fungsi ini, diharapkan adanya ekosistem pengembangan teknologi internal yang kolaboratif dan produktif. Dengan begini, tim internal Bank Papua mampu mengembangkan, mengelola, dan memperbaiki aplikasi secara mandiri.

Dampak Jangka Panjang Pelatihan

Ada beberapa dampak yang dihasilkan dari pelatihan ini. Berikut adalah beberapa di antaranya:

  • Peningkatan Produktivitas dan Efisiensi Tim IT: Pelatihan ini membuat tim IT lebih dapat membangun serta mengelola aplikasi dengan mandiri dan efisien.
  • Pengurangan Biaya Pengembangan Aplikasi: Kemampuan internal akan mengurangi ketergantungan pada vendor eksternal dan menekan biaya teknologi.
  • Percepatan Peluncuran Produk Digital: Tim internal dapat merespons kebutuhan dengan cepat dan mempercepat time-to-market produk digital.
  • Kontrol Penuh terhadap Kualitas dan Keamanan Sistem: Bank Papua memiliki kendali lebih besar atas standar keamanan dan kualitas aplikasinya.
  • Respons yang Lebih Cepat terhadap Perubahan Pasar dan Kebutuhan Nasabah: Kemandirian teknologi memungkinkan mereka untuk beradaptasi lebih cepat terhadap dinamika pasar dan ekspektasi nasabah.

Investasi SDM adalah Kunci Transformasi Digital

Melalui penjelasan di atas, kita bisa melihat bahwa Bank Papua mengambil langkah yang tepat. Dengan mengadakan pelatihan karyawan, mereka dapat membangun keterampilan pengembangan aplikasi secara mandiri dan dapat bersaing dalam jangka waktu panjang.

Jika perusahaan Anda juga sedang membutuhkan pelatihan seperti ini, daftarkan bisnis Anda untuk mengikuti corporate training dari Coding Studio. Kami menghadirkan fleksibilitas bagi Anda untuk mengatur jadwal, materi, hingga metode pembelajarannya.

Selain itu, program ini juga akan dihadiri oleh para pengajar berpengalaman dan bersertifikasi Nasional hingga Internasional. Singkatnya, program kami dapat membantu meningkatkan efisiensi kerja tim Anda dalam menghadapi tantangan teknologi.

Hubungi kami untuk melakukan konsultasi dan penyusunan program pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan industri Anda.