Teknologi Tiongkok saat ini jujur jauh melampaui apa yang pernah saya bayangkan sebelumnya.
Menghabiskan waktu selama satu bulan penuh di Suzhou Industrial Park Institute of Vocational Technology (SIPIVT) benar-benar mengubah cara pandang saya tentang bagaimana masa depan teknologi dibangun. Selama pelatihan intensif ini, saya berkesempatan mengeksplorasi secara mendalam tiga pilar utama teknologi modern: Kecerdasan Buatan (AI), Robotika, dan Teknologi Drone.
Pembelajaran di sana bukan sekadar teori di dalam ruang kelas. Kami dibawa melihat langsung aplikasi industri nyata melalui kunjungan pabrik dan pusat-pusat inovasi. Namun, hal yang paling berkesan bagi saya bukanlah satu jenis teknologi saja, melainkan bagaimana AI, robotika, dan drone sudah terintegrasi secara mulus ke dalam kehidupan sehari-hari serta sistem manufaktur modern.
Momen Self-Focus: Ketika Anak-Anak di Tiongkok Sudah Bermain Drone
Ada satu momen unik yang mendadak membuat saya reflektif dan self-focus. Hal yang bikin saya terdistraksi di Tiongkok sebenarnya bukan cuma deretan gedung pencakar langitnya yang megah, melainkan melihat anak-anak di sana yang sudah terbiasa bermain dan memegang drone.
Awalnya saya berpikir, “Kok bisa ya di usia semuda itu mereka sudah sebegitu akrab dengan teknologi yang bagi sebagian besar orang masih terasa rumit?”
Rasa penasaran itu mendorong saya untuk memberanikan diri mengikuti pelatihan merakit drone secara langsung di Tiongkok. Saya ingin tahu dari akarnya: Sebenarnya drone itu dirancang dan dibuat seperti apa, sih?

Bukan Sekadar Menerbangkan: Pengalaman Merakit dari Nol
Di tempat pelatihan itulah mata saya makin terbuka. Drone ternyata bukan cuma tentang tinggal pencet tombol lalu diterbangkan di udara. Ada proses rekayasa presisi di belakangnya.
Selama sesi praktikum, saya belajar setiap tahapan teknisnya dari dasar:
- Merakit frame sebagai struktur utama drone.
- Memasang motor dan menyolder komponen-komponents elektronik satu per satu.
- Menghubungkan flight controller sebagai otak kemudi drone.
- Melakukan proses kalibrasi sistem yang detail hingga drone benar-benar siap dan stabil untuk mengangkasa.
Momen puncaknya terjadi ketika drone hasil rakitan tangan saya sendiri diuji terbang langsung oleh laoshi (pengajar) di sana. Setelah menerbangkannya dengan mulus, sang laoshi menoleh dan memberi apresiasi dengan gestur khasnya: “Gak perlu ragu, ini udah mantap!”
Dari pengalaman merakit itu, saya menarik satu kesimpulan penting: teknologi bukan cuma soal mahir menggunakan alat, tapi juga paham betul bagaimana cara alat itu bekerja dari dalam.

Membawa Pulang Misi untuk Talenta Digital Indonesia
Pengalaman di Suzhou membuat saya sadar bahwa masa depan bukanlah sesuatu yang harus kita tunggu pasif, melainkan sesuatu yang sedang dibangun hari ini.
Perjalanan satu bulan di Tiongkok mungkin telah berakhir, tetapi misi untuk terus belajar dan menciptakan dampak baru saja dimulai. Saya berharap seluruh pengetahuan, wawasan, dan pengalaman teknis yang saya dapatkan bisa dibawa pulang ke Indonesia untuk berkontribusi, meskipun kecil, dalam mengembangkan talenta yang siap menghadapi masa depan serta mempercepat transformasi digital negara kita.
Kira-kira, kalau pengalaman merakit drone dan teknologi AI terintegrasi ini diterapkan di ekosistem edukasi Indonesia, bakal oke banget, kan?
Ingin mempelajari teknologi AI dan otomatisasi dengan kurikulum yang selaras dengan perkembangan industri global? Telusuri program dan silabus lengkapnya di School of AI Coding Studio.